LP2MUNMUL - Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LP2M) Universitas Mulawarman menggelar webinar "Refleksi Setahun Covid-19 di Kaltim", Kamis (18/3/2021).

Webinar kali ini menghadirkan Prof. Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes, M.Sc.PH dari FKM Universitas Hasanuddin Makassar yang sekaligus Ketua Tim Ahli Pengendalian COVID-19 Sulawesi Selatan. Kemudian, dr. Corona Rintawan, Sp.EM Wakil Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center Pusat dan dr. David Hariadi Masjhoer, Sp.OT, MARS, Direktur RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Dalam webinar, terungkap bahwa tenaga kesehatan dan manajemen rumah sakit Abdul Wahab Sjahranie mengakui tak siap hadapi pandemi covid-19 sejak menguak pertama kali di kota Samarinda 18 Maret 2020.

"Pasien pertama kali masuk tanggal 17 Maret dan 18 Maret hasilnya keluar terkonfirmasi positif Covid-19. Penyebaran covid-19 ini sangat cepat dan masif sekali dalam waktu satu tahun ini jumlah penderita 127 juta di seluruh dunia," kata dr David.

Diakui dr David, rumah sakit umumnya di seluruh Indonesia tidak siap hadapi kasus infeksi. Penyakit non infeksi ditangani RSUD AWS untuk rawat jalan saja masih mendominasi. "Dalam setahun ini, rumah sakit-rumah sakit masih memikirkan penyakit non infeksi. Kalau kita lihat penanganan unggulan rumah sakit adalah penyakit tidak menular yang memberi value," kata dr David.

Sebelum pandemi, RSUD Abdul Wahab Sjahranie hanya memiliki 5 kamar isolasi untuk penyakit infeksi sebagai hal yang disyaratkan oleh pemangku kebijakan karena berpengalaman dari kasus flu burung.

"Kita tidak menyangka Covid-19 ini sedemikian hebat. Terus terang saja kami tidak tahu kondisi yang nyata Covid-19 dan kita sempat hanya anggap hal ini sekedar lewat. Apalagi ada kenyataan Indonesia adalah Negara kepulauan yang bisa menghambat Covid-19 dan ternyata kita salah," kata dr David.

Kasus Covid-19 ditangani di RSUD AWS sejak Maret 2020 sudah muncul. Kemudian, bulan April alami penurunan kasus dan di bulan Mei-Juni sempat tak ada pasien virus corona yang ditangani.

"Bulan Juli sesudah liburan Idul Fitri, kasus Covid-19 mulai meningkat. Kalau kita perhatikan puncaknya di bulan September lalu mulai menurun. Kemudian meningkat lagi ada libur Idul Adha. Kasus pasien meninggal positif hampir sama dengan penanganan Covid-19," ujar dr David.

Sementara itu, dr. Corona Rintawan dalam webinar menjelaskan wabah Covid-19 tidak bisa dihindari. Karena adanya perubahan kerusakan ekosistem dan prilaku manusia. "Kita sebenarnya tidak perlu heran dan tidak perlu kaget kalau melihat riwayatnya (muncul virus jenis baru). Hanya saja kita yang belum terbiasa melakukan pencegahan kesiapsiagaan dan mitigasi," kata dr Corona.

Catatan dr Corona, melihat muncul beberapa infeksi pernapasan akibat virus jenis baru potensi epidemi yang mengancam keamanan kesehatan global dari tahun 2003 muncul novel CoV (disebut SARS CoV) dari China Hongkong menyebar ke 29 Negara.

Lalu, tahun 2009 muncul virus influenza A (H1N1) sebagai strain baru yang berasal dari babi. Kemudian, tahun 2012 muncul MERS-CoV di Arab Saudi menyebar ke 26 Negara. Dan tahun 2013, virus novel avian influenza A (H7N9) atau virus baru flu burung terjadi pertama kali di Cina. Pada 7 Januari 2020, terdapat 2019 novel coronavirus yang membuat WHO pada tanggal 12 Februari 2019 meresmikan nama virus tersebut sebagai Covid-19.

Webinar dipandu moderator Dr. dr. Swandari Paramita, M.Kes PUI-PT OKTAL Universitas Mulawarman mengatakan seluruh pihak berharap tidak ada lagi refleksi Covid-19 pada tahun depan dan segera terbentuk herd immunity. (myn)

 

Sumber : https://kaltim.prokal.co/read/news/384249-awalnya-mayoritas-rs-tak-siap-belum-terbiasa-pencegahan-dan-mitigasi/12

Covid-19, Refleksi, LP2M Unmul